close
Banner iklan disini

Kamis, 22 September 2016

AL-FARABI - FILSAFAT ISLAM

BIOGRAFI DAN KARYA AL-FARABI

1.    Biografi Al-Farabi
Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh. Ia lahir di Wasij, distrik Farab (Sekarang dikenal dengan kota Atrar/Transoxiana) Turkistan pada tahun 257 H (870M). Ayahnya seorang jenderal berkebangsaan Persia dan Ibunya berkebangsaan Turki.[1] Di kalangan orang-orang Latin Abad Tengah, Al-farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr (Abunaser), sedangkan sebutan nama Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat ia dilahirkan.[2]
Sejak kecil, Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa. Bahasa yang dikuasainya, antara lain bahasa Iran, Turkestan, dan Kurdistan. Munawir Sjadzali[3] mengatakan bahwa Al-Farabi dapat berbicara dalam tujuh puluh macam bahasa tetapi yang dikuasai dengan aktif hanya empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.
Pada waktu mudanya, Al-Farabi pernah belajar bahasa dan sastra Arab di Baghdad kepada Abu Bakar As-Saraj, dan logika serta filsafat kepada Abu Bisyr Mattitus ibn Yunus, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan filsafat Yunani, dan belajar kepada Yuhana ibn Hailam. Kemudian, ia pindah ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil, dan berguru kepada Yuhana ibn Jilad. Akan tetapi, tidak berapa lama, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat. Ia menetap di kota ini selama 20 tahun.[4] Di Baghdad juga ia membuat ulasan tentang buku-buku filsafat Yunani dan mengajar. Di antara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibn ‘Adi, Filsuf Kristen.
Pada usia 75 tahun, tepatnya pada tahun 330 H (945 M), ia pindah ke Damaskus, dan berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang besar sekali, tetapi Al-Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham saja sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selanjutnya, sisa tunjangan jabatan yang diterimanya, dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan amal sosial di Aleppo dan Damaskus.
Hal yang menggembirakan dari ditempatkannya Al-Farabi di Damaskus adalah Al-Farabi bertemu dengan sastrawan, penyair, ahli bahasa, ahli fiqh, dan kaum cendekiawan lainnya. Lebih kurang 10 tahun, Al-Farabi tinggal di Aleppo dan Damaskus secara berpindah-pindah akibat hubungan penguasa kedua kota ini semakin memburuk, sehingga Saif Ad-Daulah menyerbu kota Damaskus yang kemudian berhasil menguasainya, Dalam penyerbuan ini Al-Farabi diikutsertakan. Dan pada bulan Desember 950 M (339 H), Al-Farabi meninggal dunia di Damaskus dalam usia 80 tahun.
Al-Farabi hamper sepanjang hidupnya terbenam dalam dunia ilmu, sehingga tidak dekat dengan penguasa-penguasa Abbasyiah pada waktu itu saking gemarnya Al-Farabi dengan dunia ilmu dan kegemarannya dalam membaca dan menulis, ia sering membaca dan menulis di bawah sinar lampu penjaga malam.
Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna, sehingga filsuf yang datang sesudahnya seperti Ibnu Sina (370H/980M-428H/1037M) dan Ibn Rusyd (520H/1126M-595H/1198M) banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dan Aristoteles lewat risalahnya ­Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu. Oemar Amin Husein[5] menyatakan bahwa ibnu Sina telah membaca 40 kali buku metafisika karangan Aristoteles, bahkan hamper seluruh isi buku itu dihapalnya, tetapi belum memahaminya. Ibnu Sina baru memahami filsafat Aristoteles setelah membaca buku Al-Farabi, Tahqiq fi Kitab ma Ba’da Ath-Thobi’ah yang menjelaskan tujuan dan maksud metafisika Aristoteles. Karena pengetahuannya yang mendalam mengenai filsafat Yunani, terutama Plato dan Aristoteles, id dijuluki Al-Mu’allim Ats-Tsani (Guru Kedua), sedangkan Al-Mu’allim Al-Awwal (Guru Pertama) adalah Aristoteles.
Pada abad pertengahan Al-Farabi sangat dikenal sehingga orang-orang Yahudi banyak yang mempelajari karangan-karangan /risalah-risalahnya yang disalin kedalam bahasa Ibrani. Sampai sekarang, salinan tersebut masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa.
Al-Farabi hidup pada zaman ketika situasi politik dan kekuasaan Abbasiyah diguncang oleh berbagai gejolak, pertentangan, dan pemberontakan. Al-Farabi lahir pada masa pemerintahan Al-Mu’taaddid (870-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Muti’. Suatu priode paling kacau dan tidak ada stabilitas politik sama sekali pada waktu itu, timbul banyak tantangan, bahkan pemeberontakan terhadap kekuasaan Abbasiyah dengan berbagai motif: agama, kesukuan, dan kebendaan. Banyak anak raja dan penguasa lama berusaha mendapatkan kembali wilayah dan kekuasaan nenek moyangnya, khususnya orang-orang Persia dan Turki.
Diperkirakan erat kaitannya dengan situasi politik yang demikian kisruh, Al-Farabi menjadi gemar berkhalwat, menyendiri dan merenung. Ia merasa terpanggil untuk mencari pola kehidupan bernegara dan bentuk pemerintahan yang ideal.[6] Al-Farabi dalam hidupnya tidak deka dengan penguasa dan tidak menduduki salah satu jabatan pemerintah. Hal tersebut di satu pihak merupakan keuntungan, karena dengan demikian Al-Farabi memiliki “kebebasan” dalam berpikir, tanpa harus berusaha menyesuaikan gagasannya dengan pola dan situasi politik yang ada saat itu. Akan tetapi, dilain pihak merupakan kerugian karena dia tidak mempunyai peluang untuk belajar dari pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan, dan untuk menguji teori-teorinya dengan kenyataan politik yang hidup ditengah-tengah kehidupan bernegara pada zamannya.

2.    Karya-Karya Al-Farabi
Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf Islam terbesar memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan, seperti ilmu bahasa, matematika, kimia,astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqh, dan manthiq. Oleh karena itu, banyak karya yang ditinggalkan Al-Farabi, namun karya tersebut tidak banyak diketahui seperti karya Ibnu Sina. Hal ini karya-karya Al-Farabi hanya berupa risalah-risalah (karangan pendek) dan sedikit sekali yang berupa buku besar yang mendalam pembicaraannya. Kebanyakkan karyanya telah hilang dan yang masih dapat dibaca dan dipublikasikan baik yang sampai kepada kita maupun yang tidak kurang lebih 30 judul saja. Di antara judul karyanya adalah sebagai berikut:
1.  ­Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu
2.  Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah
3.  Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani
4.  At-Ta’liqat
5.  Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi Al-Falsafah
6.  Kitab Tahshil As-Sa’adah
7.  Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah
8. ‘Uyun Al-Masa’il
9.  Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah
10. Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita
11. Maqalat fi Ma’ani Al-Aql
12. Fushul Al-Hukm
13. Risalat Al-Aql
14. As- Siyasah Al-Madaniyah
15. Al-Masa’il Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha.
Dari kitab-kitab diatas dengan berbagai macam objek kajian yang ditulis Al-Farabi , terlihat dengan jelas bahwa Al-Farabi adalah sosok filsuf, ilmuan, dan cendikiawan dunia yang ilmunya sangat luas dan dalam. Massignon, ahli ketimuran Perancis mengatakan bahwa Al-Farabi adalah seorang filsuf Islam yang pertama. Sebelum dia Al-Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia Islam. Akan tetapi, Al-Kindi tidak menciptakan sistem filsafat tertentu dan persoalan-persoalan yang dibicarakan masih banyak yang belum memperoleh pemecahan yang memuaskan. Sebaliknya, Al-Farabi telah menciptakan suatu sistem yang  lengkap seperti peranan yang dimiliki Plotinus bagi dunia barat.
3.    Filsafat Al-Farabi
Al-Farabi dalam karyanya Tahsil As-Sa’adah menyebutkan, “untuk menjadi filsuf yang betul-betul sempurna, seseorang harus memiliki ilmu-ilmu teoritis dan daya untuk menggali ilmu-ilmu itu demi kemanfaatan orang lain sesuai dengan kapasitas mereka” Al-Farabi (19811b) : 89, (1969a) : 43, Al-Farabi mengikuti Plato, berpendirian bahwa setiap filsuf sejatinya dibebani tugas untuk mengkomunikasikan filsafat mereka kepada orang lain, dan bahwa tugas ini sangat penting untuk memenuhi cita ideal filsafat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa seni retorika, puisi, dan dialektika, sepanjang mereka menjadi sarana penting untuk berkomunikasi dengan masyrakat manusia, merupakan bagianintegral filsafat dan pelengkap yang diperlukan bagi ilmu demonstrative.
Atas daasar itu, Al-Farabi mendefinisikan filsafat adalah “Al-Ilmu bil Maujudaat bima hia Al-Maujudaat (Ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada).”[7] Untuk menetapkan filsafat, Al-Farabi memberikan tawaran dua pola, konseptual dan pembenaran. Secara lengkap dikutib sebagai berikut:
“Teori demonstrasi Al-Farabi sendiri terpusat pada analisi terhadap syarat-syarat yang harus dipenuhi agar memperoleh ilmu atau pengetahuan (‘ilm = episteme dalam bahasa Yunani). Seperti pemikir Muslim pengikut Aristoteles yang lain, Al-Farabi mendasarkan analisis ini pada perbedaan antara dua tindakan kognitif dasar, yakni konseptualisasi (tashawwur) dan pembenaran (tashdiq). Tindakan pertama bertujuan memahami konsep-konsep sederhana dan memungkinkan kita menyerap esensi objek yang kita pahami itu ketika tindakan itu menjadi utuh atau sempurna. Tindakan kedua, yaitu pembenaran, terjadi atau muncul dalam pertimbangan dua penilaian benar atau salah, ketika tindakan itu utuh atau sempurna, ia memberikan pengetahuan yang pasti. Dua tindakan kognitif ini pada gilirannya diidentifikasi berturut-turut sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh definisi dan silogisme demonstrative, dua topic penting yang dibahas dalam Posterior Analytics-nya Aristoteles sehingga analisis terhadap syarat-syarat bagi konseptualisasi dan konfirmasi yang sempurna menjadi kunci interprestasi Al-Farabi atas teori demonstrasi Aristoteles (Kitab Al-Burhan, dalam Al-Farabi 1986-7, 4:19-22,45)
Meskipun demikian, filsafat Al-Farabi lebih condong kepada filsafat Plato daripada filsafat Aristoteles. Al-Farabi sependapat dengan Plato bahwa alam ini adalah “baru” dan terjadi dari tidak ada. Pendapat senada juga diungkap oleh Al-Kindi (185-252H/801-816M)
Menurut Plato (429-347SM), alam nyata yang kita lihat ini hanyalah tiruan semata dari alam idea, sedangkan menurut Aristoteles (384-322SM) sebaliknya alam idea hanyalah bayangan (pantulan) saja dari alam materi. Kita melihat beberapa benda (materi), lalu dari pantulan penglihatan itu, kita dapat menyimpulkan suatu rumusan pendapat (konsepsi) tentang benda itu. Konsepsi itulah menurut Aristoteles yang dinamaka idea.kalau Plato mengatakan bahwa alam dunia adalah “baru” (hadis) dan tidak abadi, sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa alam dunia ini qadim (azali), sudah ada sejak semula dan abadi selamanya.
Oleh karena itu, dalam soal terjadinya alam dan bagaimana hubungan Khalik dengan makhluk, Al-Farabi seperti itu juga Al-Kindi, menyetujui teori emanasi neo-Platonisme. Bahkan lebih jauh dari Al-Kindi, Al-Farabi lebih merinci lagi teori emanasi yang dinamaknnya nadhariatul-faidh itu dengan pengurainnya sendiri.
Lebih jauh Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat (al-falsafah at-tufiqiyah dan wahdah al-falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai filsuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat.[8] Dalam ilmu logika dan fisika, ia dipengaruhi oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik , ia dipengaruhi oleh Plato. Adapun dalam persoalan metafisika, ia dipengaruhi oleh Plotinus.
Indikasi pengaruh filsafat Aristoteles dalam ilmu logika adalah bahwa akal murni itu esa adanya. Menurut Al-Farabi, itu akan berisi satu pikiran saja, yakni senantiasa memikirkan dirinya sendiri. Jadi Tuhan itu adalah akal yang akil (berpikir) ma’qul (dipkirakan). Dengan ta’aqqul ini, dimulailah ciptaan Tuhan. Takala Tuhan memikirkan itu, timbulah suatu wujud baru atau terciptalah suatu akal baru yang oleh Al-Farabi dinamakan al-aqlu ats-tsani dan seterusnya sampai dengan al-aqlu al-asyir (akal kesepuluh) yang dinamakn dengan al-aqlu al-af’al (akal yang aktif bekerja), yang oleh orang Barat disebut dengan active intellect.



[1] Hasyimsah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pertama, 2002), Cet. Ke3, hlm, 32.
[2] Poerwantana dkk, Seluk-beluk Filsafat Islam, (Bandung: Rosdakarya, 1988), Cet. Ke1, hlm, 133.
[3] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: ajaran, sejarah dan pemikiran,(Jakarta: UI Press, 1993), Cet. Ke-5, hlm49
[4] Hasyimsah Nasution, Ibid, hlm, 32.
[5] Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1964), hlm.88
[6] Munawir Sjadzali, ibid, hlm.51.
[7] Poerwantana dkk, Ibid, hlm. 135
[8] Ibrohim Madkour, “Al-Farabi”, dalam M.M Syarif, (ed), A History of Muslim Philosophy, Vol. 1, (Wiesbaden:Otto Harrassowitz, 1963), hlm. 456.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar