close
Banner iklan disini

Selasa, 08 Maret 2016

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Mutu - Edward Sallis


v Mutu
             Mutu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan gairah dan harga diri. (Tom Peters dan Nancy Austin, A Passion For Excellence, 1985).
Mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya, mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga, mutu jelas merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status ditengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang kian keras.
Ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, guru yang termuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orangtua, bisnis dan komunitas local, sumberdaya yang melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap pelajar dan anak didik, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Wakil presiden eksekutif Ford Motor Company menyampaikan bahwa kita tahu pada saat ini, masa-masa sulit ini kita harus benar-benar memuaskan pelanggan. Akan tetapi, langkah awal untuk mencapai mutu tidaklah sesederhana “ dengarkan pelanggan anda dan beri respon pada mereka maka semua hal yang baik akan tercipta dengan sendirinya”. Organisasi-organisasi yang menganggap serius pencapaian mutu, memahami bahwa sebagaian besar rahasia mutu berakar dari mendengar dan merespon secara simpatik pelanggan dank lien. Meraih mutu melibatkan keharusan melakukan segala hal dengan baik, dan sebuah institusi harus memposisikan pelanggan secara tepat dan proposional agar mutu tersebut bisa dicapai.

v Apakah mutu hanya sekedar sebuah inisiatif Lain?
Saat ini , kesadaran baru terhadap mutu mulai merambah dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Inggris misalnya telah lama memiliki mekanisme mutu, meskipun ada beberapa dari mereka yang berada diluar institusi. Oleh karena itu, institusi-institusi pendidikan perlu mengembangkan sistem-sistem mutunya, agar dapat membuktikan kepada publik bahwa mereka dapat memberikan layanan yang bermutu.
Kita perlu menanyakan apakah mutu, jaminan mutu, mutu terpadu, dan TQM adalah hanya sekedar sebuah inisiatif sebuah model baru yang didesain untuk menambahkan berat beban para guru dan institusi yang kekurangan dana? Inisiatif yang melelahkan telah menjadi faktor penghambat perkembangan sistem pendidikan selama beberapa dekade yang lalu, dan hal tersebut masih terus terjadi.
Mutu khususnya dalam konteks TQM adalah hal yang berbeda. Mutu bukan sekedar inisiatif lain. Mutu merupakan filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. TQM adalah alternatif yang layak dipertimbangkan. Dalam dunia Barat TQM adalah cara menghilangkan tekanan ekonomi sehingga mereka mampu bersaing lebih baik dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan pasifik. Bagaimanapun juga TQM tidak akan membawa hasil dalam waktu yang singkat. Perubahan budaya institusi adalah sebuah proses yang lambat dan tidak bisa tergesa-gesa. Dampak-dampak TQM hanya akan dicapai jika semua pelakunya merasa perlu untuk ikut terlibat. Makna sejati dari mutu tersebut harus mampu menyentuh pikiran dan hati semua pelaku. Dan dalam dunia pendidikan, hal ini akan terwujud jika semua staf pendidikan merasa yakin bahwa pengembangan mutu akan membawa dampak positif bagi mereka dan akan menguntungkan para anak didik.

v Asal Mula Gerakan Mutu
Gagasan perbaikan mutu dan jaminan mutu mulai dimunculkan setelah Perang Dunia Kedua. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan di Inggris dan Amerika baru tertarik pada isu mutu di tahun 1980an, saat mereka mempertanyakan keunggulan Jepang dalam merebut pasar dunia.

v Kontribusi Deming, Shewhart, dan Juran
Gagasan tentang jaminan mutu dan mutu terpadu terlambat sampai di Barat, meskipun ide-ide tersebut pada mulanya dikembangkan pada tahun 1930-an dan 1940an oleh W. Edwards Deming. Ia adalah seorang ahli statistik Amerika yang memiliki gelar PhD dalam bidang fisika. Ia dilahirkan pada tahun 1900. Pengaruhnya sebagai teoritikus manajemen bermula di Barat, namun justru Jepang memanfaatkan keahliannya sejak 1950. Deming mulai memformulasikan idenya pada tahun 1930an ketika melakukan penelitian tentang metode-metode menghilangkan variabilitas dan pemborosan dari proses industri. Dia memulai kerjanya di Western Electric di Chicago. Western Electric juga tempat kerja Joseph Juran. Pada saat itu, pabrik Hawthorne mempekerjakan lebih dari 40.000 orang yang memperoduksi perlengkapan telepon. Pabrik ini menjadi popular saat Elton Mayo dan Koleganya dari Universitas Harvard berhasil membuat serangkaian eksperimen terkenal tentang sebab-sebab perubahan produktivitas. Pada saat itu Mayo menemukan “Hawtborne effect” yang mengakui eksistensi dan pentingnya struktur-struktur informal dalam organisasi-organisasi terhadap hasil produk industry serta terhadap produktivitas dan dampaknya terhadap praktek-praktek kerja.
Dari Western Electric, Deming pindah kerja di Departemen Pertanian Amerika. Disana dia diperkenalkan pada Walter Shewhart seorang ahli statistik dari Bell Laboratories di New York. Sebelumnya Shewhart telah mengembangkan beberapa teknik yang membawa proses-proses industry menuju apa yang ia sebut dengan kontrol statistik. Ini adalah serangkaian teknik-teknik yang meminimalisasi unsur-unsur tak terduga dari proses-proses industri, sehingga industry lebih bisa diprediksi dan dikontrol. Tujuannya adalah untuk menghilangkan pemborosan biaya dan penundaan waktu. Kontribusi awal Deming adalah mengembangkan dan meningkatkan metode-metode statistik Shewhart dan Deming, sekarang dikenal sebagai Statistical Process Control (SPC), yang dikombinasikan dengan wawasan hubungan gerakan relasi manusia yang diasosiasikan dengan Mayo dan koleganya yang notabene merupakan penyokong teori TQM.
Deming mengunjungi Jepang pertama kali di akhir tahun 1940an untuk melakukan sensus Jepang pasca perang. Terkesan dengan kinerjanya, Japanese Union of Engineers and Scientists mengundang Deming untuk kembali pada tahun 1950 untuk mengajarkan aplikasi kontrol proses statistik kepada para pelaku industry dijepang. Jepang menekankan perhatian dalam merekonstruksi industry mereka yang rusak karena perang. Pada saat itu, industry Jepang mengalami kerusakan besar akibat bom yang dijatuhkan Amerika sehingga industry yang tersisa hanya bisa menghasilkan produk imitasi bermutu rendah. Orang-orang jepang berkeinginan untuk belajar dari bangsa-bangsa industrialis lain.
Deming memberikan sebuah jawaban yang sederhana terhadap kondisi sulit mereka. Dia menganjurkan agar Jepang memulai ayunan langkah dengan mengetahui apa yang diinginkan oleh pelanggan mereka. Deming menganjurkan agar mereka mendesain metode-metode produksi serta produk mereka dengan standar tertinggi. Hal ini akan memungkinkan mereka memegang kendali. Deming yakin bahwa jika pendekatan tersebut sepenuhnya dijalankan, maka lebih kurang dalam lima tahun ke depan, perusahaan-perusahaan di Jepang mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin pasar. Jepang menerapkna ide-ide Deming , Joseph Juran dan Pakar Mutu Amerika lainnya yang berkunjung ke Jepang pada waktu itu. Revolusi mutu dimulai dari pabrik dan diikuti oleh industry-industri jasa serta diikuti juga bank dan keuangan. Jepang telah mengembangkan ide-ide Juran dan Deming ke dalam apa yang mereka sebut Total Quality Control, dan mereka mampu menjadi singa pasar dunia. Dominasi pasar yang mereka raih tersebut sebagian besar merupakan hasil dari perhatian mereka terhaadap mutu.      

v Perkembangan Baru Minat Terhadap Mutu
Di AMerika sendiri ide-ide Deming dan Juran justru diabaikan. Pada tahun 1950-an, bisnis Amerika memang apat menjual dengan baik semua barang yang mereka produksi. Penekanan industry Amerika dan sebagian dunia Barat pada saat itu hanya memaksimalkan produksi dan keuntungan. Sedangkan mutu mendapat prioritas yang rendah. Namun, sejak tahun 1970-an ketika mereka mulai kehilangan pasar, karena pasar mulai condong pada Jepang, maka beberapa perusahaan Amerika Serikat mulai memperhatikan pesan mutu secara serius.
Pencarian jawaban terhadap kompetisi Jepang mendapatkan perhatian serius dalam salah satu teks manajemen yang paling berpengaruh pada tahun 1980-an: Peters dan Weterman, In Search of Ezcellence (1982). Peters dan Weterman menganalisis untsur-unsur penting dari perusahaan yang ‘unggul’ di Jepang, kemudian yang ada di Amerika. Penelitian mereka menunjukan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan baik dengan pelanggan adalah mereka yang selalu bersifat kompetitif dan menguntungkan. Keunggulan berjalan beriringan dengan sebuah pendapat yang sederhana namun penting, yaitu ‘dekat dengan pelanggan’ dengan obsesi yang baik adalah organisasi yang memiliki struktur non-birokrasi yang didasarkan pada tim yang aktif dan antusias. Unsur-unsur ini dapat menjadi bagian dari setiap organisasi, tapi bagi perusahaan-perusahaan Jepang, unsur-unsur tersebut betul-betul sudah diterapkan dengan sangat baik dan antusias.
Mutu terpadu (total quality) membutuhkan manager yang mampu mengesampingkan sejenak keuntungan jangka pendek dan menetapkan tujuan keberhasilan jangka panjang. Untuk tetap terdepan dalam kompetisi, sebuah organisasi harus mengetahui kebutuhan pelanggan, kemudian menyatukan pikiran untuk bertindak memenuhi kebutuhan mereka.
Perbedaan antara metode bisnis Jepang dan metode industry Barat terletak pada kultur, perbedaan utamanya adalah pada kultur perusahaan-perusahaan mereka dan sikap mereka terhadap mutu. Deming, Juran, Crosby dan Peters, menganjurkan pentingnya perubahan kultur kerja agar mutu terpadu bisa meraih sukses.
Di Inggris Raya dan Eropa Barat pesan jaminan mutu memang baru saja didengar, namun ada kesadaran yang terus meningkat bahwasannya mutu adalah kunci menuju keunggulan yang kompetitif. Kompetisi tidak hanya untuk kepentingan pasar tapi juga dalam mempekerjakan karyawan-karyawan yang paling inovatif dan bermotivasi.
Sekarang ada kampanye untuk meningkatkan standar sertifikasi mutu Eropa pasca 1992, dan The European Foundation for Quality Management baru-baru ini telah didirikan 14 perusahaan penting Eropa, termasuk Volkswagen & Philips.

v Gerakan Mutu dalam Pendidikan
Inisiatif untuk menerapkan konsep TQM berkembang terlebih dahulu di Amerika barulah di Inggris, namun awal 1990-an kedua negara tersebut betul-betul dilanda gelombang metode tersebut. Ada banyak gagasan yang dihubungkan dengan mutu juga dikembangkan dengan baik oleh institusi-institusi pendidikan tinggi dan gagasan-gagasan mutu tersebut terus-menerus diteliti dan diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Beberapa inisiatif baru seperti TVEI, penempatan guru dalam industry dan berkembangnya kerjasama pendidikan dan bisnis (Education Business Partnership) telah membuat hubungan keduanya semakin dekat dan menbuat konsep-konsep industry semakin dapat diterima dalam dunia pendidikan. Dan pada akhirnya ada keinginan yang terus meningkat dari pelaku pendidikan untuk mengeksplorasi pelajaran-pelajaran dari industry.
Peningkatan mutu semakin penting bagi institusi yang digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik melalui usahanya sendiri. Kebebasan yang baik harus disesuaikan dengan akuntabilitas yang baik. Institusi-institusi harus mendemonstrasikan bahwa mereka mampu memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik. Pendidikan memerlukan strategi-strategi kompetitif yang secara jelas membedakan institusi-institusi dari para pesaingnya. Mutu terkadang hanya menjadi satu-satunya faktor pembeda bagi sebuah institusi. Fokus terhadap kebutuhan pelanggan, yang merupakan poin inti dari mutu, inilah salah satu cara efektif dalam menghadapi kompetisi dan bertahan didalamnya.

Hal yang sangat mengejutkan adalah mengapa mutu dan mutu terpadu dalam dunia pendidikan baru memperoleh pengakuan setelah sekian lama mutu tersebut berhasil dalam dunia industry? Meskipun demikian, satu hal yang harus kita yakini bersama bahwa layanan mutu merupakan isu kunci bagi seluruh sector pendidikan pada masa dekade mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar