v
Mutu
Mutu
adalah sebuah hal yang berhubungan dengan gairah dan harga diri. (Tom Peters
dan Nancy Austin, A Passion For
Excellence, 1985).
Mutu merupakan suatu hal yang
membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya, mutu dalam pendidikan akhirnya
merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga, mutu
jelas merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam
meraih status ditengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang kian keras.
Ada banyak sumber mutu dalam
pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, guru yang termuka, nilai moral
yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan
orangtua, bisnis dan komunitas local, sumberdaya yang melimpah, aplikasi
teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap
pelajar dan anak didik, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari
faktor-faktor tersebut. Wakil presiden eksekutif Ford Motor Company
menyampaikan bahwa kita tahu pada saat ini, masa-masa sulit ini kita harus
benar-benar memuaskan pelanggan. Akan tetapi, langkah awal untuk mencapai mutu
tidaklah sesederhana “ dengarkan pelanggan anda dan beri respon pada mereka
maka semua hal yang baik akan tercipta dengan sendirinya”.
Organisasi-organisasi yang menganggap serius pencapaian mutu, memahami bahwa
sebagaian besar rahasia mutu berakar dari mendengar dan merespon secara
simpatik pelanggan dank lien. Meraih mutu melibatkan keharusan melakukan segala
hal dengan baik, dan sebuah institusi harus memposisikan pelanggan secara tepat
dan proposional agar mutu tersebut bisa dicapai.
v
Apakah mutu hanya sekedar sebuah
inisiatif Lain?
Saat ini , kesadaran baru
terhadap mutu mulai merambah dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Inggris
misalnya telah lama memiliki mekanisme mutu, meskipun ada beberapa dari mereka
yang berada diluar institusi. Oleh karena itu, institusi-institusi pendidikan
perlu mengembangkan sistem-sistem mutunya, agar dapat membuktikan kepada publik
bahwa mereka dapat memberikan layanan yang bermutu.
Kita perlu menanyakan apakah
mutu, jaminan mutu, mutu terpadu, dan TQM adalah hanya sekedar sebuah inisiatif
sebuah model baru yang didesain untuk menambahkan berat beban para guru dan
institusi yang kekurangan dana? Inisiatif yang melelahkan telah menjadi faktor
penghambat perkembangan sistem pendidikan selama beberapa dekade yang lalu, dan
hal tersebut masih terus terjadi.
Mutu khususnya dalam konteks TQM
adalah hal yang berbeda. Mutu bukan sekedar inisiatif lain. Mutu merupakan
filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan
dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.
TQM adalah alternatif yang layak dipertimbangkan. Dalam dunia Barat TQM adalah
cara menghilangkan tekanan ekonomi sehingga mereka mampu bersaing lebih baik
dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan pasifik. Bagaimanapun juga TQM
tidak akan membawa hasil dalam waktu yang singkat. Perubahan budaya institusi
adalah sebuah proses yang lambat dan tidak bisa tergesa-gesa. Dampak-dampak TQM
hanya akan dicapai jika semua pelakunya merasa perlu untuk ikut terlibat. Makna
sejati dari mutu tersebut harus mampu menyentuh pikiran dan hati semua pelaku.
Dan dalam dunia pendidikan, hal ini akan terwujud jika semua staf pendidikan
merasa yakin bahwa pengembangan mutu akan membawa dampak positif bagi mereka
dan akan menguntungkan para anak didik.
v
Asal Mula Gerakan Mutu
Gagasan perbaikan mutu dan
jaminan mutu mulai dimunculkan setelah Perang Dunia Kedua. Meskipun demikian,
perusahaan-perusahaan di Inggris dan Amerika baru tertarik pada isu mutu di
tahun 1980an, saat mereka mempertanyakan keunggulan Jepang dalam merebut pasar
dunia.
v
Kontribusi Deming, Shewhart, dan
Juran
Gagasan tentang jaminan mutu dan
mutu terpadu terlambat sampai di Barat, meskipun ide-ide tersebut pada mulanya
dikembangkan pada tahun 1930-an dan 1940an oleh W. Edwards Deming. Ia adalah
seorang ahli statistik Amerika yang memiliki gelar PhD dalam bidang fisika. Ia
dilahirkan pada tahun 1900. Pengaruhnya sebagai teoritikus manajemen bermula di
Barat, namun justru Jepang memanfaatkan keahliannya sejak 1950. Deming mulai memformulasikan idenya pada
tahun 1930an ketika melakukan penelitian tentang metode-metode menghilangkan
variabilitas dan pemborosan dari proses industri. Dia memulai kerjanya di
Western Electric di Chicago. Western Electric juga tempat kerja Joseph Juran.
Pada saat itu, pabrik Hawthorne mempekerjakan lebih dari 40.000 orang yang
memperoduksi perlengkapan telepon. Pabrik ini menjadi popular saat Elton Mayo
dan Koleganya dari Universitas Harvard berhasil membuat serangkaian eksperimen
terkenal tentang sebab-sebab perubahan produktivitas. Pada saat itu Mayo
menemukan “Hawtborne effect” yang mengakui
eksistensi dan pentingnya struktur-struktur informal dalam
organisasi-organisasi terhadap hasil produk industry serta terhadap
produktivitas dan dampaknya terhadap praktek-praktek kerja.
Dari Western Electric, Deming
pindah kerja di Departemen Pertanian Amerika. Disana dia diperkenalkan pada
Walter Shewhart seorang ahli statistik dari Bell Laboratories di New York.
Sebelumnya Shewhart telah mengembangkan beberapa teknik yang membawa
proses-proses industry menuju apa yang ia sebut dengan kontrol statistik. Ini
adalah serangkaian teknik-teknik yang meminimalisasi unsur-unsur tak terduga
dari proses-proses industri, sehingga industry lebih bisa diprediksi dan
dikontrol. Tujuannya adalah untuk menghilangkan pemborosan biaya dan penundaan
waktu. Kontribusi awal Deming adalah mengembangkan dan meningkatkan
metode-metode statistik Shewhart dan Deming, sekarang dikenal sebagai Statistical Process Control (SPC), yang
dikombinasikan dengan wawasan hubungan gerakan relasi manusia yang
diasosiasikan dengan Mayo dan koleganya yang notabene merupakan penyokong teori
TQM.
Deming mengunjungi Jepang pertama
kali di akhir tahun 1940an untuk melakukan sensus Jepang pasca perang. Terkesan
dengan kinerjanya, Japanese Union of
Engineers and Scientists mengundang Deming untuk kembali pada tahun 1950
untuk mengajarkan aplikasi kontrol proses statistik kepada para pelaku industry
dijepang. Jepang menekankan perhatian dalam merekonstruksi industry mereka yang
rusak karena perang. Pada saat itu, industry Jepang mengalami kerusakan besar
akibat bom yang dijatuhkan Amerika sehingga industry yang tersisa hanya bisa
menghasilkan produk imitasi bermutu rendah. Orang-orang jepang berkeinginan
untuk belajar dari bangsa-bangsa industrialis lain.
Deming memberikan sebuah jawaban
yang sederhana terhadap kondisi sulit mereka. Dia menganjurkan agar Jepang
memulai ayunan langkah dengan mengetahui apa yang diinginkan oleh pelanggan
mereka. Deming menganjurkan agar mereka mendesain metode-metode produksi serta
produk mereka dengan standar tertinggi. Hal ini akan memungkinkan mereka memegang
kendali. Deming yakin bahwa jika pendekatan tersebut sepenuhnya dijalankan,
maka lebih kurang dalam lima tahun ke depan, perusahaan-perusahaan di Jepang
mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin pasar. Jepang menerapkna ide-ide
Deming , Joseph Juran dan Pakar Mutu Amerika lainnya yang berkunjung ke Jepang
pada waktu itu. Revolusi mutu dimulai dari pabrik dan diikuti oleh
industry-industri jasa serta diikuti juga bank dan keuangan. Jepang telah
mengembangkan ide-ide Juran dan Deming ke dalam apa yang mereka sebut Total Quality Control, dan mereka mampu
menjadi singa pasar dunia. Dominasi pasar yang mereka raih tersebut sebagian
besar merupakan hasil dari perhatian mereka terhaadap mutu.
v
Perkembangan Baru Minat Terhadap
Mutu
Di AMerika sendiri ide-ide Deming
dan Juran justru diabaikan. Pada tahun 1950-an, bisnis Amerika memang apat
menjual dengan baik semua barang yang mereka produksi. Penekanan industry Amerika
dan sebagian dunia Barat pada saat itu hanya memaksimalkan produksi dan
keuntungan. Sedangkan mutu mendapat prioritas yang rendah. Namun, sejak tahun
1970-an ketika mereka mulai kehilangan pasar, karena pasar mulai condong pada
Jepang, maka beberapa perusahaan Amerika Serikat mulai memperhatikan pesan mutu
secara serius.
Pencarian jawaban terhadap
kompetisi Jepang mendapatkan perhatian serius dalam salah satu teks manajemen
yang paling berpengaruh pada tahun 1980-an: Peters dan Weterman, In Search of Ezcellence (1982). Peters
dan Weterman menganalisis untsur-unsur penting dari perusahaan yang ‘unggul’ di
Jepang, kemudian yang ada di Amerika. Penelitian mereka menunjukan bahwa
perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan baik dengan pelanggan adalah
mereka yang selalu bersifat kompetitif dan menguntungkan. Keunggulan berjalan
beriringan dengan sebuah pendapat yang sederhana namun penting, yaitu ‘dekat dengan pelanggan’ dengan obsesi
yang baik adalah organisasi yang memiliki struktur non-birokrasi yang didasarkan
pada tim yang aktif dan antusias. Unsur-unsur ini dapat menjadi bagian dari
setiap organisasi, tapi bagi perusahaan-perusahaan Jepang, unsur-unsur tersebut
betul-betul sudah diterapkan dengan sangat baik dan antusias.
Mutu terpadu (total quality) membutuhkan manager yang mampu mengesampingkan sejenak keuntungan
jangka pendek dan menetapkan tujuan keberhasilan jangka panjang. Untuk tetap
terdepan dalam kompetisi, sebuah organisasi harus mengetahui kebutuhan
pelanggan, kemudian menyatukan pikiran untuk bertindak memenuhi kebutuhan
mereka.
Perbedaan antara metode bisnis
Jepang dan metode industry Barat terletak pada kultur, perbedaan utamanya
adalah pada kultur perusahaan-perusahaan mereka dan sikap mereka terhadap mutu.
Deming, Juran, Crosby dan Peters, menganjurkan
pentingnya perubahan kultur kerja agar
mutu terpadu bisa meraih sukses.
Di Inggris Raya dan Eropa Barat
pesan jaminan mutu memang baru saja didengar, namun ada kesadaran yang terus
meningkat bahwasannya mutu adalah kunci menuju keunggulan yang kompetitif. Kompetisi
tidak hanya untuk kepentingan pasar tapi juga dalam mempekerjakan
karyawan-karyawan yang paling inovatif dan bermotivasi.
Sekarang ada kampanye untuk
meningkatkan standar sertifikasi mutu Eropa pasca 1992, dan The European Foundation for Quality
Management baru-baru ini telah didirikan 14 perusahaan penting Eropa,
termasuk Volkswagen & Philips.
v
Gerakan Mutu dalam Pendidikan
Inisiatif untuk menerapkan konsep
TQM berkembang terlebih dahulu di Amerika barulah di Inggris, namun awal
1990-an kedua negara tersebut betul-betul dilanda gelombang metode tersebut. Ada
banyak gagasan yang dihubungkan dengan mutu juga dikembangkan dengan baik oleh
institusi-institusi pendidikan tinggi dan gagasan-gagasan mutu tersebut
terus-menerus diteliti dan diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Beberapa inisiatif baru seperti TVEI, penempatan guru dalam industry dan
berkembangnya kerjasama pendidikan dan bisnis (Education Business Partnership) telah membuat hubungan keduanya
semakin dekat dan menbuat konsep-konsep industry semakin dapat diterima dalam
dunia pendidikan. Dan pada akhirnya ada keinginan yang terus meningkat dari
pelaku pendidikan untuk mengeksplorasi pelajaran-pelajaran dari industry.
Peningkatan mutu semakin penting
bagi institusi yang digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik melalui
usahanya sendiri. Kebebasan yang baik harus disesuaikan dengan akuntabilitas
yang baik. Institusi-institusi harus mendemonstrasikan bahwa mereka mampu
memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik. Pendidikan memerlukan
strategi-strategi kompetitif yang secara jelas membedakan institusi-institusi
dari para pesaingnya. Mutu terkadang hanya menjadi satu-satunya faktor pembeda
bagi sebuah institusi. Fokus terhadap
kebutuhan pelanggan, yang merupakan poin inti dari mutu, inilah salah satu cara
efektif dalam menghadapi kompetisi dan bertahan didalamnya.
Hal yang sangat
mengejutkan adalah mengapa mutu dan mutu terpadu dalam dunia pendidikan baru
memperoleh pengakuan setelah sekian lama mutu tersebut berhasil dalam dunia industry?
Meskipun demikian, satu hal yang harus kita yakini bersama bahwa layanan mutu
merupakan isu kunci bagi seluruh sector pendidikan pada masa dekade mendatang.







