KONSEP FITRAH & PERTAMA KALI KITA MENGENAL ALLAH
Sebelum
mengetahui kapan pertama kali kita mengenal Allah, adabaiknya kita mengetahui
terlebih dahulu konsep Fitrah Manusia dalam Islam karena keduanya saling
berkaitan. Secara etimologi, fitrah berasal dari istilah bahasa Arab “fathara” yang bersinonim dengan istilah “khalaqa” dan “ansyaa” yang memiliki arti mencipta. Secara umum, para pemikir
muslim cenderung memaknai fitrah sebagai potensi manusia untuk beragama tauhid.
Al-Jarkasyi memaknai fitrah sevagai iman bawaan yang telah diberikan Allah
sejak manusia masih berada dalam rahim. Sedangkan menurut Muhammad bin Asyur,
sebagaimana dikutip Quraisy Shihab mendefinisikan fitrah sebagai bentuk lain
dari sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk, sedangkan fitrah yang
berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang
berkaitan dengan kemampuan akal dan jasmaninya. Dari kedua makna fitrah
tersebut maka saya memahami makna fitrah sebagai potensi jasmaniyah dan akal
yang telah Allah titipkan kepada manusia sebagai bakal untuk melaksanakan
seluruh amanah yang dibebankan didunia, tugas kita sebagai manusia adalah
menjaga fitrah tersebut agar tetap pada jalan yang dikehendaki-Nya serta
mengembangkan seluruh potensi yang ada seoptimal mungkin.
Berbicara
tentang fitrah manusia, pada dasarnya tidak lepas dari konsep tentang asal mula
kejadian manusia itu sendiri. Mengetahui asal kejadian adalah hal yang sangat
penting bagi manusia, karena dengan mengetahui asal kejadian diri sendiri
merupakan titik tolak dalam menetapkan pandangan hidup. Manusia yang tidak
memahami asal kejadiannya akan mengalami kesulitan dalam menentukan pandangan
hidupnya.
Dari
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud r.a beliau berkata, “sesungguhnya setiap
kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama
empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh
hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari, kemudian diutus
kepadanya Malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk
menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelekaan
atau kebahagiannya…...” (H.R Bukhori & Muslim) / ( Hadits Arbain No.4).
1. 40
hari pertama berupa pancaran spermatozoa dengan ovum bertemu
2. 40
hari kedua berbentuk ‘Alaqah yang
menempel di dinding rahim
3. 40
hari ketiga berbentuk mudghah
Dan saat
kandungan berusia 4 bulan inilah Allah mengutus Malaikat untuk meniupkan ruh,
dan pada saat ruh masuk diperkenalkanlah kita dengan pemilik ruh yaitu Allah
SWT.
"....... alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa......." [QS
Al A’raaf 7:172]
Apakah kalian
berkomitmen siap menjadikan Aku sebagai Tuhanmu? lalu dijawab tentu saja kami
bersyahadat. Untuk itu seluruh bayi yang terlahir dari perut ibunya yang
muslimah atau non muslim, yang lahir itu fitrah sudah bersyahadat dan sudah
mengenal Allah. Namun sayang kata Nabi Muhammad orang tuanyalah yang
menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.
Dari Abu
Hurairah berkata, Rasulullah telah bersabda “Tidaklah setiap anak yang lahir
kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan
menjadikannya sebagai yahudi, nasrani, atau majusi….” (H.R. Al- Imam Al-Bukhari
dalam Kitabul Jana’iz No.1358,1359, 1358).
Mengutip pernyataan Ustad Adi
Hidayat, Lc beliau mengatakan bahwa tidak hanya orangtua saya yang bisa
mempengaruhi tetapi lingkungan sekitarnya jugalah, karena ada bayi yang
terlahir sudah tidak memiliki ayah dan ibunya meninggal saat melahirkannya
sehingga harus diasuh oleh keluarga atau orang lain. Lingkungan sekitarnyalah
yang membuat dia jauh dari Allah. Yang tadinya terbuka kenal Allah jadi
tertutup dan puncaknya saat dia disekolahkan di sekolah yang menjauhkan dia
dari Allah. Tidak pernah belajar sholat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak
pernah mendengar kalimat Tauhid. Sehingga ketika mendengar adzan telinganya
seolah-olah tertutup tidak tersentuh, mata terhalang ketika melihat orang
sholat. Lingkunganlah yang sangat mempengaruhi baik buruknya seseorang.







